RENUNGAN JUMAT 18 JULI 2008

Ada dua hal spesial yang bisa menjadi catatan yang harus kutulis dengan tinta emas hari ini. Dua hal yang kalau aku lihat arah gerakannya terasa saling menjauhi. Yang satu momentum yang menunjukkan bahwa aku bergerak ke arah kemajuan yang bersifat konstruktif dan yang satunya lagi, kalau aku salah menerima dan menyikapinya bisa menjadi sesuatu yang sangat destruktif dan merusak jalan menuju ke dalam diriku.

Aku coba ceritakan sedikit lebih detail kejadian apa yang aku alami hari ini.

Hari ini seharusnya aku kerja shift siang, jam 17.00. Padahal sebenarnya aku sudah agenda yang sudah aku susun, untuk aku kerjakan di siang harinya. Sedang aku mempersiapkan materi yang akan aku kerjakan di note bookku, tiba-tiba telepon rumahku berdering, aku biarkan berdering beberapa saat, paling adik sepupu yang telepon mau ambil update-an anti virus yang aku janjikan. Sambil akan berjalan santai menuju ruang telepon, ternyata karyawan laundryku sudah ngangkat teleponnya duluan, dan segera menyerahkan padaku begitu dia melihatku datang.

Ternyata bosku dari kantor telepon aku agar aku bisa datang lebih awal, karena hari ini Sriwijaya datang ke Denpasar dengan menggunakan pesawat Boeing 737-300. Tempat kerjaku menjalin kerjasama dengan Sriwijaya Airline untuk menangani pesawatnya yang landing di Bandara Ngurah Rai, Bali.

Padaahal baru saja aku telepon sepupuku untuk ambil update-an anti virusnya ke rumah, terpaksa aku batalin lagi, karena aku mau ke kantor. Aku mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan yang bisa aku selesaikan sebelum bersiap-siap pergi ke kantor.

Walaupun seharus aku harus sampai di kantor jam 15.00, aku merasa lebih nyaman untuk datang ke kantor lebih awal, sesuatu yang sudah merupakan kebiasaanku. Aku merasa bisa lebih santai di jalan, bisa santai dan duduk-duduk dulu di kantor sambil istirahat sebelum pesawat yang aku tangani datang. Melakukan persiapan-persiapan administratif dalam penanganan pesawat atau membaca dokumen yang aku perlukan untuk memperlancar pekerjaanku.

Sebelum berangkat, aku kirim pesan ke temen yang menjadi pimpinan pada sebuah perusahaan broker forex trading, aku mau visit untuk menindak lanjuti, pengenalanku dalam bisnis forex trading ini.

Ternyata dia terlambat mengirim pesan balasan kepadaku, setelah aku lewat pintu Bandara. Aku kirim pesan balasan, hari ini aku gak jadi datang, aku janji akan datang senen depan. Dan aku lanjut ke kantorku tapi sebelumnya mampir ke kantor administrasi untuk mengembalikan software komputer yang aku pinjam, dan selanjutnya aku langsung pergi ke kantorku.

Sementara menunggu waktu, aku melakukan aktivitas-aktivitas persiapan sebelum menangani pesawat Sriwijaya, dan menghidupkan note bookku, dan membuka web site portal dan web mail kantorku, barangkali ada informasi dan isu yang menarik untuk aku baca.

Lagi asyik aku baca-baca dokumen pendukung dalam handling pesawat, bosku masuk kantor dan memberiku info, aku belum dapat kesempatan untuk dipromosikan pada kesempatan ini. Karena ada pembatasan kuota dalam promosi kali ini dari pusat, masing-masing group boleh dipromosikan 2 0rang saja, karena pusat mengijinkan 10 orang untuk Denpasar.

Dalam hati kecilku aku sangat kecewa sekali, tetapi sepanjang perjalananku sebagai karyawan aku sudah terlatih dengan kondisi seperti itu, tidak dipromosikan adalah merupakan bagian diriku sebagai karyawan, sekarang pada saat aku sudah tumbuh menjadi manusia dewasa, haruskah aku berbalik merengek dan marah atau protes jika aku tidak aku pada program kali ini?. Dan aku ambil keputusan tidak bereaksi dengan kepala panas menanggapi masalah ini, dan aku biarkan saja kejadian itu melewati perjalanan hidupku. Tetapi di kantorku ada fasilitas komunikasi yang praktis, aku berusaha meredam rasa kecewaku dengan berkirim surat ke Kepala serikat pekerjaku dan juga aku kirim copynya ke vise president HRD, barangkali mereka tahu ada solusi yang lebih baik untuk kemajuan karirku. Hanya itu usaha minimal yang kulakukan, biar aku ada usaha sedikit memperjuangkan karirku, dan aku tidak punya target yang muluk-muluk, dan habis itu aku biarkan masalah itu berlalu sesuai dengan arah alaminya.

Kejadian kedua, adalah untuk pertama kalinya aku mengerjakan tugas tertinggi dalam karir seorang mekanik/engineer pesawat terbang. Hari ini pertama kalinya aku menggunakan wewenangku untuk menyatakan peasawat untuk layak terbang. Pekerjaan ini adalah pekerjaan tertinggi yang dilakukan oleh orang yang berkarir pada bisnis perawatan pesawat terbang.

Disini aku merasa bukan nilai rupiah yang menjadi ukuran menjadi pemeagang surat wewenang, tetapi pengalamanku dalam menjalankan tugas tertinggi itu, berbagai rasa muncul dalam diriku, ada rasa takut, khawatir, semangat, kepuasan dan lain-lainnya.

Walaupun selanjutnya aku pasti akan mengerjakan pekerjaan yang sama, tapi semuanya hanya merupakan pengulangan saja, walaupun akan ada variasai masalah yang berbeda saat pengulangan tersebut.

Salam

Leave a Reply