RENUNGAN SELASA 15 JULI 2008

Hampir sama dengan kejadian kemarin, aku bangun pagi dengan kondisi yang hamper sama, malah terjadi kemunduran dari kejadian kemarin. Aku terbangun tatkala jam sudah menunjukkan pukul 6.15 pagi, lebih lambat 5 menit dari pagi kemarin. Melihat record yang aku buat sepertinya aku orang yang sangat jauh dari kategori orang disiplin. Itu juga aku bangun karena aku dengar suara kresek-kresek di sebelahku, saat istriku melihat jam di HPku.

Sama seperti kemarin, aku masih mau melanjutkan tidurku sambil menunnggu anakku mandi dan pakai baju, lumayan aku dapat tambahan tidur, kataku dalam hati.

Dengan mata masih terpejam, aku mengingatkan istriku agar menyiapkan sarapan untuk anakku, kemarin dia tidak sarapan di rumah dan aku kasi bekal 5000 rupiah dihabisin semua, dan yang dibeli di sekolah kemarin hanya rujak saja, kebetulan kemarin tidak ada yang jual nasi di sekolah.

Istriku pergi ke warung depan rumah untuk membeli nasi bungkus yang pagi-pagi biasanya selalu ada, tapi kebetulan pagi ini penjual nasinya belum datang, jadilah anakku dibikinin telur ceplok plus nasi putih untuk sarapan paginya, sebenarnya dalam hati hal inilah yang aku mau. Karena aku belum mau komplain ke istriku hari ini agar dia bisa bangun lebih pagi, untuk bisa nyiapin sarapan anakku lebih awal, sekalian juga memasak untuk kami semua lebih pagi, tidak perlu membeli khusus hanya untuk sarapan anakku, sederhanya efisiensi. Didalam otakku yang terlintas melihat 2 hari awal anakku masuk sekolah saat ini adalah 5000 rupiah kali 30 hari, angka yang keluar manjadi 150 000 rupiah, angka ini adalah angka 25% kalau aku membandingkan dengan anggaran dapu yang kuberikan ke istriku.

Kalau, istriku bangun lebih awal angka yang keluar bisa diturukan hampir setengah dari itu tanpa perlu menambah anggaran dapur, cukup aku kasi bekal uang 2000/3000 rupiah saja, kalau dikali sebulan akan bisa menghemat antara 60 ribu hingga 70 ribu, cukup untuk bayar salah satu telepon/listrik/air.

Penghematan ini hanya baru dari satu pos pengeluaran, belum pos-pos yang lain.

Pos yang lain seperti, makan siang istriku, pemakaian Handphone, pemakaian internet, kuantitas keluar rumah( hubungannya bisa ke BBM, ekses belanja karena keluar rumah, dll).

Contoh; untuk makan siang istriku. Kalau istriku mau membawa makan siangnya dari rumah tentu angka yang bisa dihemat tentu akan lebih besar lagi, ambil saja istriku tidak membelanjakan 7000 rupiah saja untuk makan siang kalau dikalikan 30 hari angka yang keluar sebesar 210 000 rupiah, bukan sebuah angka yang kecil untuk bisa disimpan kala kita membutuhkan suatu saat nanti.

Aku memang sangat details sekali mengenai hal-hal seperti ini, walaupun tidak bisa aku terapkan seketat angka-angka yang tertulis di atas, kadang semangat sekali untuk menerapkan kadang aku kendorkan lagi, semacam ada toleransi atau ruang nafas dalam pengaturan keuangan, biar tidak terlalu longgar begitu juga jangan terlalu ketat, nanti aku bisa tercekek karena tidak ada toleransi ruang nafas keuangan keluargaku, atau nafas keuanganku jadi tidak teratur dan terengah-engah saat aku butuh nafas keuangan yang banyak tapi tidak ada cadangan nafas yang kumiliki.

Aku mau masuk lebih ke dalam sedikit dan cakupan yang agak lebar sedikit, karena sudah terlanjur kutulis cara pandangku tentang uang(nafas keuangan). Aku merasa hidupku adalah kumpulan dari suatu kebiasaan-kebiasaan, ada kebiasaan yang memang kulakukan dari masa kecil masih kuat hingga sekarang  dan ada juga kebiasaan yang sengaja aku latih dengan penuh disiplin yang akhirnya menjadi sesuatu yang permanen dan cukup kuat mempengaruhi hidupku walaupun tetap saja ada improvisasi/menyimpang sesaat dari biasanya dan segera akan kembali ke bentuk aslinya.

Contoh kebiasaanku yang dari kecil tidak pernah membelanjakan uang selain hanya untuk keperluan pokok saja, walaupun aku sudah mendapat penghasilan yang cukup besar kalau aku bandingkan dengan kebutuhan pokokku aku tetap tidak pingin belanja. Aku juga bingung melihat diriku, apa aku bisa didefinisikan sebagai orang pelit atau orang yang tidak bisa mensyukuri. Tapi kalau aku membuka mataku dan melihat sekeliling keluar diriku, banyak aku lihat belanja rajin, rumah atau juga kendaraan yang dimiliki jauh dari kesan sederhana, penghasilan bisa jadi lebih banyak, aku sering mendengar mereka mengeluh, membayar ini dan itu terlalu mahal, harga ini dan itu terlalu mahal, diakhir bulan sudah kehabisan stok keuangan.

Sangat berbeda dengan aku, belanja jarang, rumah dan kendaraan sederhana, keluar rumah untuk refreshing tetap kulakukan walaupun under control, tetapi aku tidak pernah merasa gaji yang aku terima kurang untuk membiayai hidupku sebulan malah kalau aku hitung kasar bisa untuk hidup 3 bulan.

Inilah merupakan hasil kebiasaanku semenjak kecil dalam hal keuangan, aku bisa mengendalikan keinginanku kalau itu memang bukan sesuatu yang mutlak kubutuhkan, aku juga bisa menikmati “hiburan” yang aku dan keluargaku butuhkan, dan yang paling hebat menurutku sih rasa bersyukur yang kumiliki tidak ada habis-habisnya atas apa yang telah kuperoleh dan kumiliki, keluargaku, rumah dan kelengkapannya yang sederhana, pekerjaanku, hidupku pribadiku dll.

Contoh kebiasaanku yang kulatih dengan disiplin dan tekun setelah aku besar adalah MEDITASI, karena ketekunan dan kedisiplinan dalam berlatih meditasi inilah aku bisa bersyukur, apa yang aku biasakan sejak kecil punya pengaruh yang kuat terhadap hidupku saat ini, aku merasa tidak perlu mengendalikan diriku pada hal yang bukan merupakan kebutuhan mutlak bagiku karena pengendalian diri itu sendiri adalah watak utamaku, kalau orang lain masih harus berfikir bagaimana caranya untuk mendapat atau membeli ini dan itu, sedangkan aku apa gunanya aku harus membeli ini dan itu.

Aku kembali ke topic ruang nafas yang aku tulis di atas. Kedua contoh kebiasaanku yang aku tulis diatas, merupakan bentuk awal dari ruang nafas keuanganku, saat aku tidak punya uang untuk aku belanjakan sejak aku kecil aku tidak boleh tidak harus membangun ruang nafas yang sekecil-kecilnya, aku bernafas hanya untuk sekedar hidup, hal itupun tetap aku lakukan sampai sekarang walaupun aku punya daya untuk membuat ruang nafas yang lebih besar, karena badanku sudah terbiasa bernafas dengan ruang nafas sebesar itu, kalau sesekali aku ingin mengambil nafas yang lebih besar tidak akan mengurangi kenyamanan diriku.

Akan berbeda sekali jadinya, kalau aku punya kebiasaan mengambil ruang nafas keuangan yang lebih besar, uang yang belum aku miliki saat inipun akan aku pakai sebanyak-banyaknya untuk memenuhi keinginanku saat ini padahal bisa jadi itu bukan merupakan kebutuhan utamaku, jadinya gaji yang aku terima sebagian akan habis untuk memperkarya sipemberi pinjaman demi terpenuhinya keinginan itu. Tidak mungkin bukan, aku akan bisa bisa bersyukur kalau aku dihadapkan pada kondisi seperti itu, paling yang ada aku akan merasa dari hari ke hari kurang terus, dengan alasan gaji kecil, tidak ada kenaikan pangkat, harga naik terus tapi gaji gak naik-naik dan sbgnya.

Sekarang aku mau balik lagi pada angka-angka yang kucantumkan di atas. Angka 150 000 dan angka 210 000 bisa jadi ada tambahan angka lainnya, anggaplah angka yang bisa dihemat 400 000 rupiah, kalau angka itu aku titipkan pada salah satu program investasi, tinggal aku pilih yang konservatif, kira-kira 10 atau 15 tahun lagi saat anakku mau masuk perguruan tinggi, pasti aku tidak akan pernah dipusingkan oleh mahalnya biaya pendidikan, melihat dampak keringanan dan manfaat yang aku terima hanya dengan menghemat sedikit tanpa mengurangi kenikmatan hidup saat ini, tidak ada alasan bagiku untuk berkata salah kalau aku harus ketat sedikit dengan keuangan. Itu baru satu manfaat yang nyata yang bisa kuambil, dengan menyelamatkan uang yang seharusnya keluar mubasir pada program investasi seperti itu, bisa jadi akan bisa menggantikan fungsiku kalau Tuhan tidak mengijinkan aku untuk meneruskan perjuangan dalam hidup ini, atau kalau aku masuk rumah sakit ada yang bantuin aku bayar biaya rumah sakit yang mahal itu.

Aku mau kembali ke kegiatan harianku, aku ketemu sama teman kerjaku di sekolah anakku, yang kebetulan juga nganter anaknya yang sekolah di sana. Sebenarnya aku sengaja pingin ketemu dia, pingin ngobrol dengan dia, karena aku jarang sekali ketemu sama dia kebetulan aku beda shift kerja dengannya. Aku ngobrol masalah kantor, masalah karirku di kantor, dan hubungan aku dengan hal-hal lainnya di kantor. Cukup lama aku ngobrol denganya, mungkin ada sekitar dua jam-an. Diobrolan inilah wacana rasa syukurku aku sampaikan padanya, walaupun aku dalam karir pekerjaan aku termasuk orang yang jauh tertinggal di kantor( kalau gaji mungkin tidak jauh beda), tetapi aku merasa bersyukur bisa berhasil dalam kehidupan(hanya dalam hati saja kuucapkan).

Sepulang dari sekolah anakku, aku melakukan hal yang rutin, makan, mandi, setelah itu ritual utamaku “MEDITASI” kulakukan. Setelah meditasi barulah aku masuk ke aktivitas selanjutnya, hidupin note bookku, cek surat di Halaman Yahoo mail, melihat perkembangan harga Forex, sambil aku menulis Blog ku ini.

Untuk hari ini mungkin, hanya itu yang kutulis karena sisanya sambil menunggu waktu kerja, paling aku baca-baca e book yang aku ambil dari milistku di Groups Trader di Yahoo, sesekali lihat we portal kantorku, karena aku bisa banyak belajar di sana, bisa lihat perkembangan problem yang ada di pesawat, apa yang dilakukan dengan problem seperti itu, kalau bosan baca web motivasi atau cari web berita. Kalau capek yang paling tidur siang setelah itu berangkat ke kantor.

Salam   

Leave a Reply