RENUNGAN 14 JULI 2008

Tepat jam 6.10 pagi, antara tidur dan terjaga, dan sedikit kaget  aku mendengar istriku bertanya , “Tut Dede hari ini masuk jam 7.00 pagi ya?. Dengan mata masih terpejam, aku membenarkan pertanyaan istriku, dan segera dia membangunkan anakku Dede, agar segera  mandi biar tidak terlambat masuk hari pertama sekolah setelah liburan panjang dan hari pertamanya di kelas 3 SD. Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan tidurku karena masih terasa ngantuk sekali, toh sekarang masih hari libur keduaku ( dalam satu putaran kerja shift 6 hari kerja aku dapat 2 hari libur). Tetapi keinginanku untuk tidur lebih lama lagi tidak mungkin kulakukan karena aku harus segera mengantar anakku pergi ke sekolah, walaupun jarak rumahku dengan sekolah anakku sekitar  1 km bisa jadi kurang, aku merasa bersalah membiarkan anakku pergi sekolah jalan kaki padahal aku ada di rumah.

Selama ini untuk berangkat sekolah dari kelas 1 sampai kelas 2, anakku selalu pasti kuantar, kadang-kadang kalau aku tidak sempat mengantarnya sekolah , istrikulah yang mengantarnya sekolah. Untuk melatih kemandirian anakku agar urusan berangkat dan pulang sekolah tidak harus selalu diantar dan dijemput, aku membuat aturan wajib jalan kaki sepulang sekolah. Aturan ini kubuat agar dia bisa mengerti  ada tanggung jawab terhadap dirinya yang harus dia ambil, bukan sesederhana urusan berangkat dan pulang sekolah, tetapi banyak hal lain yang bisa dia pelajari  dengan proses situ: hidup tidak bisa selalu digantungkan pada orang tua saja,. Kesannya pelajaranya ketinggian ya untuk anak seumur itu, tapi nggak kok. Kalau dilihat dari apa yang kutulis di atas, kesannya sih ketinggian, tapi kalau itu merupakan sebuah pelatihan saja, sebenarnya itu hanyalah hal biasa saja, tetapi apa yang kulakukan pada anakku dalam bentuk tulisan, ya jadi kesannya formal dan serius.

Aku mau serius lagi, semua aturan yang kubuat untuk anakku tidak kujelaskan motivasinya apa, aku berharap anakku sendiri yang akan menggali pelajaran apa yang dapat dia ambil dari aturan yang kuberlakukan padanya. Sekarang mungkin belum banyak yang bisa diambil sama dia, tapi seiring berjalannya waktu dan dia akan tumbuh semakin besar, sedikit-dikit, sadar tidak sadar, mau ataupun tidak mau pelajaran itu akan diambil juga, entah karena dia mendapat masalah yang membuat dia harus berfikir dan secara tidak sadar masuk ke kehidupan masa kecilnya, entah karena hasil perenungan yang sengaja dilakukan, ataupun melalui cara-cara lainnya.

Kesannya, aku terlalu berfikir futuristik dan terlalu jauh ke depan, padahal anakku remaja saja belum lewat, kok ngomongnya seakan-akan dia sudah dewasa sekali. Begitulah, aku melihat kehidupan ini terjadi, sesuatu yang terjadi di masa lalu memberi kontribusi pada apa yang terjadi di masa kini, sesuatu yang terjadi di masa kini akan memberi kontribusi di masa depan. Walaupun banyak orang yang berkata hidup damai itu jika kita bisa selalu hidup dalam masa kini, jam ini, menit ini, kalau lebih ekstrim detik ini juga, bukan menit ke depan atau menit yang sudah lewat. Cara pandang hidup seperti ini 100 % benar, menurut aku sih cuma untuk dilaksanakan titik, bukan untuk dibahas.

Aku mau kembali ke topik aturan yang kubuat untuk anakku biar tidak ngelantur kesana kemari, walaupun aku termasuk orang yang cuek terhadap kehidupan sekitarku, tetapi aku merasa mengambil banyak sekali pelajaran dari kehidupan sekekelilingku. Dari pelajaran yang kudapat dari sekelilingku itulah aku merasa, walaupun aku tidak punya kuasa terhadap kehidupan itu, merupakan sesuatu yang mutlak aku harus membangun sebuah lorong sebagai pembatas jalanku di kehidupan yang menyediakan jalan yang teramat luas yang harus kulalui. Apa yang kulakukan sekarang terhadap anakku bertujuan agar dia menyiapkan lorongnya sendiri melalui pelatihan-pelatihan yang diterima di masa kecil. Tidak ada jaminan dia akan berhasil menciptakan lorong kehidupannya sendiri, tetapi hal terbaik yang sudah kulakukan adalah berusaha, hasilnya tetap merupakan rahasia kehidupan. Dan aku tidak mau turut campur dan mencari tahu rahasia kehidupan itu, karena kearah manapun akhirnya anakku menuju, mau ke lorong kehidupannya ataupun keluar lorong kehidupannya tidak ada sesuatu yang salah ataupun seuatu yang benar, semuanya akan terjadi.

Hanya sesederhana itulah, motivasiku memberikan aturan-aturan terhadap anakku saat ini, walaupun ada aturan lain yang kubuat, ada yang bisa dilaksanakan dan ada juga yang tidak bisa dilaksanakan, tapi aku tetap menerima keduanya dengan rasa syukur, karena aku ditakdirkan hanya sebagai perencana terhadap hidupku sendiri dan Tuhan untuk sementara memberi aku kepercayaan untuk memberi pondasi kehidupan pada anakku.

Kembali ke catatan harianku, tidak banyak aktivitas harian yang ingin kutulis hari ini, pergerakan nilai Forex sangat kecil sekali hari ini, aku tidak menemukan pola chart dan fundamental isu yang bagus untuk mencoba melakukan Demo Trading, hanya sesekali saja aku melihat pergerakan harga setelah itu aku tutup lagi platform CIC Future.

Karena hari ini tanggal 14, dan aku masih libur dan stok dapur, laundry dan kamar mandi sudah menipis, sepulang nganter anakku berangkat sekolah, aku ke Koperasi mengambil keperluan tersebut.

Hari ini aku juga pergi ke bengkel langgananku untuk servis motorku, karena sepulang dari koperasi aku melihat banyak sekali oli yang menetes, setelah kuperiksa stik pengukur ketinggian oli mesin motorku, olinya hampir habis, tanpa mau menunggu lebih lama lagi aku pergi ke bengkel, ganti oli, servis dan bongkar tutup kopling untuk memperbaiki kebocoran oli yang ada.

Sambil menunggu perbaikan motorku, aku mengecek inbox di mail Yahooku, dan aku lihat ada buku bagus yang harus aku download, dan aku sempat membacanya sedikit dan cukup bagus.

Sorenya aku pulang kampung, karena aku ada janji memasang antiviru di komputer adik sepupuku, sambil menunggu proses scanning aku ngobrol tanpa topik di rumah, hanya untuk menunggu waktu scanning selesai setelah itu aku balik ke rumahku di Denpasar.

Selesai mandi sore, aku mulai menulis blogku hari ini.

Salam

Leave a Reply