BLM SEMPAT NULIS
aku di kantor seharian, jam 09.00 pagi-01.00 malam, china shock strut, sriwijaya
AKU DI RUMAH SEHARIAN, AKU SAMA SEKALI NDAK LEWAT PINTU DEPAN RUMAHKU SEHABIS NGANTER ANAKKU SEKOLAH
AKU KE CIC
Hari minggu pagi aku pulang dari kantor lebih awal sekitar jam 4.30 pagi, karena aku ada rencana ikut keluarga melakukan perjalanan dan sekaligus persembahyangan ke Pura di Bagian barat pulau Bali, tidak biasanya aku pulang sepagi itu kalau aku kerja shift malam, aku biasanya nunggu pulang kantor biar dapat istirahat yang cukup sehabis semua tugas kantor selesai dan tidak menetapkan target untuk pulang lebih awal, selama ini aku merasa lebih bijak untuk melanjutkan istirahat dulu di kantor dan jika sudah cukup barulah aku pulang. Itu kulakukan karena tidak ada pekerjaan yang lain harus kukerjakan sampai di rumah, bagusan juga aku tetap di kantor, toh juga kalau pulang ke rumah lebih awal sampai di rumah paling juga tujuanku tidur.
Malamnya aku setel alarm di HPku, kalau tidak pasti aku akan bangun kesiangan, dan orang di rumah akan tertunda berangkatnya hanya nungguin aku, padahal aku sendiri yang meminta mereka agar berangkatnya lebih awal karena malam harinya aku harus kerja lagi, dan masuknyapun aku harus datang lebih awal.
Begitu alarm di HPku berbunyi aku segera bangun, bergegas ke wastafel di kamar mandi kantorku dan segera cuci muka untuk menghilagkan rasa kantukku yang masih hinggap di kepalaku dan sekalian ngambil air minum untuk sedikit membasahi kerongkonganku yang terasa agak kering dan aku pun bergegas pulang mengambil tasku, memeriksa kodisi kantor sebelum aku tinggalkan dan tak lupa aku menguncinya.
Aku berjalan perlahan menuju ke parkiran mencari motorku, pelan-pelan kujalankan motorku dan bergegas untuk segera bisa sampai di rumah. Begitu aku sampe di depan rumahku, kulihat istriku sedang membukakan pintu buatku, dan akupun segera masuk tanpa perlu memanggil-manggilnya untuk membukakan pintu.
Anak-anakku sudah pada bangun semua begitu aku masuk kamar, istrikupun segera menyiapkan air panas untuk memandikan anakku yang kecilan, karena yang akan ikut bersamaku hanya anakku yg kecilan, yang besaran mau tinggal di rumah nungguin teman-temannya yg akan ke rumah main game bersama. Aku juga segera mandi setelah aku melepaskan baju kerjaku walaupun udara masih sangat dingin terasa untuk mandi pagi. Tidak mungkin juga kutunda acara mandi pagiku, karena sehabis mandi aku harus segera ke kampungku di Sibang sana, agar semua bisa berangkat sesuai rencana awal.
Sekitar jam 6.00 pagi aku sudah meluncur ke kampungku dan sampai di rumah mungkin sekitar jam 6.35 pagi, walupun kampungku dekat aku butuh waktu yang lama juga menempuh jarak ke kampungku, karena kebiasaanku naik motor santai, tidak terbiasa ngebut.
Sambil menunggu keluarga dan saudaraku yg lain, aku dan keluaargaku berangkat jam 8.15 pagi, dan segera menuju ke tujuan utamaku dan keluargaku, Pura Segara Rupek yg terletak di Kab. Jembrana, perjalannku ini adalah perjalanan pertamaku dengan tujuan Tirta Yatra murni, biasanya aku datang ke pura hanya ikut rombongan setelah adanya kegiatan upacara besar dan penyelenggara upacara selalu menutup upacara itu dengan mendatangi beberapa pura yang ada di Bali.
Kira-kira jam 10.00 aku sudah sampai di sana, setelah mobil yang kami tumpangi mendapat tempat parkir yang bagus kami bergegas turun dan lanjut masuk ke dalam Pura setelah melihat lingkungan sekeliling pura yang nampaknya, Pura Segara Rupek yang aku kunjungi ini masih dalam proses pembangunan, karena lingkungan sekitar pura di sana-sini masih ada bekas-bekas proyek yang belum lama. Setelah mengenal sisi luar pura, aku dan keluargaku segera masuk ke dalam pura, kondisi di dalam purapun masih memerlukan pengerjaan lanjutan yang cukup besar, dari informasi yang aku dengar dari pemangku yang mengelola pura tersebut masih ada beberapa bangunan lagi yang belum berdiri. Menurut penjelasan juga aku dengar sebagian besar proyek ini berjalan karena ada bantuan dari Bank Dunia.
Selesai sembahyang aku dan keluargaku berpamitan pada pemangku pura dan selanjutnya melakukan ruwatan dan persembahyangan pada Pura Taman yang berada di area luar Pura. Aku melanjutkan sembahyang di beberapa pura yang ada di lingkungan Pura Segara Rupek ini.
Selesai sembahyang aku dan keluargaku makan siang bersama menikamti sesaji yang telah kami haturkan dan setelahnya melanjutkan perjalan menuju Pura Pulaki.
Aku menikamti pemandangan dalam perjalanan menuju Pura Pulaki, karena ini adalah baru pertama kalina aku lewat jalur ini walupun anggota keluargaku yang lain sudah pernah melewati jalur ini. Sebelah kiriku tampak hutan yang mengering karena musim kemarau dan ada juga pantai yang menggatikan pemandangan hutan yang kering, karena jalur yang aku lalui itu sebenarnya dekat pantai, tetapi hanya sebagian kecil saja jalan itu dibangun dekat pantai. Sebelah kananku murni bukit dengan hutannya yang juga mengering, di beberapa bagian bukit yang kering dan curam aku lihat pemandangan yang sangat eksotik sekali, aku suatu saat nanti ingin mengambil gambar pemandangan alam yang eksotik itu, aku terbayang dengan gambar-gambar pemandangan alam yang eksotik yang pernah aku lihat, di komputer atau media lain seperti kalender, koran atau juga majalah luar negeri.
Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, aku tiba di Pura Pulaki, ini adalah kali pertamanya aku datang ke sini, sebuah pura dengan background bukit yang kering dan tandus, dan halaman depannya adalah selat Bali yg membentang luas, sebuah perpaduan alam yang terkesan harmonis dan seimbang.
Banyak sekali kutemukan monyet yg siap menghibur dan mengganggu aku dan keluargaku di Pura ini, menghibur karena saat kuperhatikan tingkah polah monyet itu lucu dan seakan dia cukup pintar untuk merayu kita untuk memberikan dia sesuatu dan mengganggu jika salah satu barang bawaan kita atau perlengkapan badan kita di curi dan dibawa kabur.
Tidak lama aku di pura ini, selesai sembahyang aku melanjutkan perjalanan ke Pura Pasar Agung, pemandangan yang kulihat masih sama seperti sebelumnya. Tak terasa berapa lama sopir yang membawaku ke sana membelokkan mobilnya ke arah kanan memasuki jalan yang lebih kecil dan di dekatnya merupakan tempat pelatihan TNI, tidak jauh masuk dari jalan utama aku dan keluargaku sudah tiba di parkiran depan Pura.
Setlah parkir aku dan keluargaku segera bergegas naik melewati anak tangga menuju pura, singkat cerita kami melakukan persembahyangan disana, dan segera pulang setelah semua anggota keluargaku masuk ke mobil.
Aku dan keluargaku pulang menempuh perjalanan ke arah timur terus belok kanan naik ke arah Pupuan terus turun ke Selatan menuju kota Tabanan terus ke timur menuju ke rumah dan sampai di rumah sekitar jam 19.00.
Tidak lama aku diam di rumah, karena aku harus segera bali ke DPS karena aku tidak mau terlambat sampai di kantor. Singkat cerita aku sdh sampai di rumahku di DPS dan segera mandi, sambil berpakaian aku ngobrol sama anakku kegiatannya di rumah tadi siang. Setelah persiapan ke kantor beres semua aku segera berangkat.
Tidak ada catatan khusus kali ini yang ingin kutulis, walaupun sebenarnya ada yang bisa kutulis, biarlah belakangan saja kutulis. Aku sudah merasa capek nulis hari ini.
Salam.
Ada dua hal spesial yang bisa menjadi catatan yang harus kutulis dengan tinta emas hari ini. Dua hal yang kalau aku lihat arah gerakannya terasa saling menjauhi. Yang satu momentum yang menunjukkan bahwa aku bergerak ke arah kemajuan yang bersifat konstruktif dan yang satunya lagi, kalau aku salah menerima dan menyikapinya bisa menjadi sesuatu yang sangat destruktif dan merusak jalan menuju ke dalam diriku.
Aku coba ceritakan sedikit lebih detail kejadian apa yang aku alami hari ini.
Hari ini seharusnya aku kerja shift siang, jam 17.00. Padahal sebenarnya aku sudah agenda yang sudah aku susun, untuk aku kerjakan di siang harinya. Sedang aku mempersiapkan materi yang akan aku kerjakan di note bookku, tiba-tiba telepon rumahku berdering, aku biarkan berdering beberapa saat, paling adik sepupu yang telepon mau ambil update-an anti virus yang aku janjikan. Sambil akan berjalan santai menuju ruang telepon, ternyata karyawan laundryku sudah ngangkat teleponnya duluan, dan segera menyerahkan padaku begitu dia melihatku datang.
Ternyata bosku dari kantor telepon aku agar aku bisa datang lebih awal, karena hari ini Sriwijaya datang ke Denpasar dengan menggunakan pesawat Boeing 737-300. Tempat kerjaku menjalin kerjasama dengan Sriwijaya Airline untuk menangani pesawatnya yang landing di Bandara Ngurah Rai, Bali.
Padaahal baru saja aku telepon sepupuku untuk ambil update-an anti virusnya ke rumah, terpaksa aku batalin lagi, karena aku mau ke kantor. Aku mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan yang bisa aku selesaikan sebelum bersiap-siap pergi ke kantor.
Walaupun seharus aku harus sampai di kantor jam 15.00, aku merasa lebih nyaman untuk datang ke kantor lebih awal, sesuatu yang sudah merupakan kebiasaanku. Aku merasa bisa lebih santai di jalan, bisa santai dan duduk-duduk dulu di kantor sambil istirahat sebelum pesawat yang aku tangani datang. Melakukan persiapan-persiapan administratif dalam penanganan pesawat atau membaca dokumen yang aku perlukan untuk memperlancar pekerjaanku.
Sebelum berangkat, aku kirim pesan ke temen yang menjadi pimpinan pada sebuah perusahaan broker forex trading, aku mau visit untuk menindak lanjuti, pengenalanku dalam bisnis forex trading ini.
Ternyata dia terlambat mengirim pesan balasan kepadaku, setelah aku lewat pintu Bandara. Aku kirim pesan balasan, hari ini aku gak jadi datang, aku janji akan datang senen depan. Dan aku lanjut ke kantorku tapi sebelumnya mampir ke kantor administrasi untuk mengembalikan software komputer yang aku pinjam, dan selanjutnya aku langsung pergi ke kantorku.
Sementara menunggu waktu, aku melakukan aktivitas-aktivitas persiapan sebelum menangani pesawat Sriwijaya, dan menghidupkan note bookku, dan membuka web site portal dan web mail kantorku, barangkali ada informasi dan isu yang menarik untuk aku baca.
Lagi asyik aku baca-baca dokumen pendukung dalam handling pesawat, bosku masuk kantor dan memberiku info, aku belum dapat kesempatan untuk dipromosikan pada kesempatan ini. Karena ada pembatasan kuota dalam promosi kali ini dari pusat, masing-masing group boleh dipromosikan 2 0rang saja, karena pusat mengijinkan 10 orang untuk Denpasar.
Dalam hati kecilku aku sangat kecewa sekali, tetapi sepanjang perjalananku sebagai karyawan aku sudah terlatih dengan kondisi seperti itu, tidak dipromosikan adalah merupakan bagian diriku sebagai karyawan, sekarang pada saat aku sudah tumbuh menjadi manusia dewasa, haruskah aku berbalik merengek dan marah atau protes jika aku tidak aku pada program kali ini?. Dan aku ambil keputusan tidak bereaksi dengan kepala panas menanggapi masalah ini, dan aku biarkan saja kejadian itu melewati perjalanan hidupku. Tetapi di kantorku ada fasilitas komunikasi yang praktis, aku berusaha meredam rasa kecewaku dengan berkirim surat ke Kepala serikat pekerjaku dan juga aku kirim copynya ke vise president HRD, barangkali mereka tahu ada solusi yang lebih baik untuk kemajuan karirku. Hanya itu usaha minimal yang kulakukan, biar aku ada usaha sedikit memperjuangkan karirku, dan aku tidak punya target yang muluk-muluk, dan habis itu aku biarkan masalah itu berlalu sesuai dengan arah alaminya.
Kejadian kedua, adalah untuk pertama kalinya aku mengerjakan tugas tertinggi dalam karir seorang mekanik/engineer pesawat terbang. Hari ini pertama kalinya aku menggunakan wewenangku untuk menyatakan peasawat untuk layak terbang. Pekerjaan ini adalah pekerjaan tertinggi yang dilakukan oleh orang yang berkarir pada bisnis perawatan pesawat terbang.
Disini aku merasa bukan nilai rupiah yang menjadi ukuran menjadi pemeagang surat wewenang, tetapi pengalamanku dalam menjalankan tugas tertinggi itu, berbagai rasa muncul dalam diriku, ada rasa takut, khawatir, semangat, kepuasan dan lain-lainnya.
Walaupun selanjutnya aku pasti akan mengerjakan pekerjaan yang sama, tapi semuanya hanya merupakan pengulangan saja, walaupun akan ada variasai masalah yang berbeda saat pengulangan tersebut.
Salam
Tidak banyak, hal yang ingin aku tulis malam ini. Aktivitas yang kulakukan hari ini, rutinitas biasa: nganterin anak sekolah, masuk kerja seperti biasa dari jam 09.00 pagi sampai jam 18.30 sudah balik ke rumah lagi, mandi, makan malam, nonton TV sambil menulis blogku ini.
Aku menjaga kedisiplinanku untuk menulis blogku ini walaupun tidak ada hal special yang menjadi renunganku hari ini. Aku berharap ada suatu ide yang muncul begitu aku menulis kata demi kata, kalimat demi kalimat demi tersusunnya blogku malam ini. Aku merasa hal sederhana apapun yang kulakukan kalau aku tekuni dan laksanakan dengan disiplin, tulus iklas dan penuh cinta kasih. Menulis sebuah blog seperti ini terlihat seperti pekerjaan buang-buang waktu percuma, tidak ada hasil bahkan hanya buang-buang waktu dan uang percuma, ya untuk bayar listrik, bayar internet dan sbgnya.
Aku memang senang dan hobi membuat dan menghitung pengeluaran yang bukan kebutuhan pokokku, tapi untuk hal yang satu ini aku tidak merasa rugi walaupun keluar uang lebih untuk berlangganan internet, uang yang aku keluarkan sebanding dengan kepuasan batin yang kudapat.
Kalau sudah duduk di depan note bookku baik untuk membaca atau menulis hal-hal yang berhubungan dengan penemuan jati diri, aku merasa nyaman, seluruh tubuh dan pikiranku aku curahkan pada apa yang ingin aku tulis, tanpa terasa detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, untaian kata demi kata yang keluar dari buah pikiranku.
Selama ini banyak sekali renungan-renungan kecil yang muncul dipikiranku, tanpa pernah aku susun menjadi sebuah tulisan, padahal renungan itu kurasa cukup besar peranannya untuk mencerahkan hati dan pikiranku. Renungan-renungan itu muncul untuk beberapa saat kemudian lenyap dan digantikan dengan renungan-renungan yang lainnya silih berganti.
Dengan aku tuliskan dalam blog seperti ini, suatu saat file-file renunganku ini bisa aku buka kembali suatu waktu, sebagai flash back perjalanan menuju kedalaman diriku, dan bisa mengukur jarak yang sudah kutempuh dalam meniti perjalanan ke dalam diri. Blogku ini akan kujadikan sebuah evaluasi kehidupanku, dan bisa kujadikan referensi untuk memberi berapa besar nilai yang kuporelah dalam hidupku, dan aku juga bisa menentukan sudah layakkah aku menerima sertifikat dan lulus dalam kehidupan ini.
Salam
Hampir sama dengan kejadian kemarin, aku bangun pagi dengan kondisi yang hamper sama, malah terjadi kemunduran dari kejadian kemarin. Aku terbangun tatkala jam sudah menunjukkan pukul 6.15 pagi, lebih lambat 5 menit dari pagi kemarin. Melihat record yang aku buat sepertinya aku orang yang sangat jauh dari kategori orang disiplin. Itu juga aku bangun karena aku dengar suara kresek-kresek di sebelahku, saat istriku melihat jam di HPku.
Sama seperti kemarin, aku masih mau melanjutkan tidurku sambil menunnggu anakku mandi dan pakai baju, lumayan aku dapat tambahan tidur, kataku dalam hati.
Dengan mata masih terpejam, aku mengingatkan istriku agar menyiapkan sarapan untuk anakku, kemarin dia tidak sarapan di rumah dan aku kasi bekal 5000 rupiah dihabisin semua, dan yang dibeli di sekolah kemarin hanya rujak saja, kebetulan kemarin tidak ada yang jual nasi di sekolah.
Istriku pergi ke warung depan rumah untuk membeli nasi bungkus yang pagi-pagi biasanya selalu ada, tapi kebetulan pagi ini penjual nasinya belum datang, jadilah anakku dibikinin telur ceplok plus nasi putih untuk sarapan paginya, sebenarnya dalam hati hal inilah yang aku mau. Karena aku belum mau komplain ke istriku hari ini agar dia bisa bangun lebih pagi, untuk bisa nyiapin sarapan anakku lebih awal, sekalian juga memasak untuk kami semua lebih pagi, tidak perlu membeli khusus hanya untuk sarapan anakku, sederhanya efisiensi. Didalam otakku yang terlintas melihat 2 hari awal anakku masuk sekolah saat ini adalah 5000 rupiah kali 30 hari, angka yang keluar manjadi 150 000 rupiah, angka ini adalah angka 25% kalau aku membandingkan dengan anggaran dapu yang kuberikan ke istriku.
Kalau, istriku bangun lebih awal angka yang keluar bisa diturukan hampir setengah dari itu tanpa perlu menambah anggaran dapur, cukup aku kasi bekal uang 2000/3000 rupiah saja, kalau dikali sebulan akan bisa menghemat antara 60 ribu hingga 70 ribu, cukup untuk bayar salah satu telepon/listrik/air.
Penghematan ini hanya baru dari satu pos pengeluaran, belum pos-pos yang lain.
Pos yang lain seperti, makan siang istriku, pemakaian Handphone, pemakaian internet, kuantitas keluar rumah( hubungannya bisa ke BBM, ekses belanja karena keluar rumah, dll).
Contoh; untuk makan siang istriku. Kalau istriku mau membawa makan siangnya dari rumah tentu angka yang bisa dihemat tentu akan lebih besar lagi, ambil saja istriku tidak membelanjakan 7000 rupiah saja untuk makan siang kalau dikalikan 30 hari angka yang keluar sebesar 210 000 rupiah, bukan sebuah angka yang kecil untuk bisa disimpan kala kita membutuhkan suatu saat nanti.
Aku memang sangat details sekali mengenai hal-hal seperti ini, walaupun tidak bisa aku terapkan seketat angka-angka yang tertulis di atas, kadang semangat sekali untuk menerapkan kadang aku kendorkan lagi, semacam ada toleransi atau ruang nafas dalam pengaturan keuangan, biar tidak terlalu longgar begitu juga jangan terlalu ketat, nanti aku bisa tercekek karena tidak ada toleransi ruang nafas keuangan keluargaku, atau nafas keuanganku jadi tidak teratur dan terengah-engah saat aku butuh nafas keuangan yang banyak tapi tidak ada cadangan nafas yang kumiliki.
Aku mau masuk lebih ke dalam sedikit dan cakupan yang agak lebar sedikit, karena sudah terlanjur kutulis cara pandangku tentang uang(nafas keuangan). Aku merasa hidupku adalah kumpulan dari suatu kebiasaan-kebiasaan, ada kebiasaan yang memang kulakukan dari masa kecil masih kuat hingga sekarang dan ada juga kebiasaan yang sengaja aku latih dengan penuh disiplin yang akhirnya menjadi sesuatu yang permanen dan cukup kuat mempengaruhi hidupku walaupun tetap saja ada improvisasi/menyimpang sesaat dari biasanya dan segera akan kembali ke bentuk aslinya.
Contoh kebiasaanku yang dari kecil tidak pernah membelanjakan uang selain hanya untuk keperluan pokok saja, walaupun aku sudah mendapat penghasilan yang cukup besar kalau aku bandingkan dengan kebutuhan pokokku aku tetap tidak pingin belanja. Aku juga bingung melihat diriku, apa aku bisa didefinisikan sebagai orang pelit atau orang yang tidak bisa mensyukuri. Tapi kalau aku membuka mataku dan melihat sekeliling keluar diriku, banyak aku lihat belanja rajin, rumah atau juga kendaraan yang dimiliki jauh dari kesan sederhana, penghasilan bisa jadi lebih banyak, aku sering mendengar mereka mengeluh, membayar ini dan itu terlalu mahal, harga ini dan itu terlalu mahal, diakhir bulan sudah kehabisan stok keuangan.
Sangat berbeda dengan aku, belanja jarang, rumah dan kendaraan sederhana, keluar rumah untuk refreshing tetap kulakukan walaupun under control, tetapi aku tidak pernah merasa gaji yang aku terima kurang untuk membiayai hidupku sebulan malah kalau aku hitung kasar bisa untuk hidup 3 bulan.
Inilah merupakan hasil kebiasaanku semenjak kecil dalam hal keuangan, aku bisa mengendalikan keinginanku kalau itu memang bukan sesuatu yang mutlak kubutuhkan, aku juga bisa menikmati “hiburan” yang aku dan keluargaku butuhkan, dan yang paling hebat menurutku sih rasa bersyukur yang kumiliki tidak ada habis-habisnya atas apa yang telah kuperoleh dan kumiliki, keluargaku, rumah dan kelengkapannya yang sederhana, pekerjaanku, hidupku pribadiku dll.
Contoh kebiasaanku yang kulatih dengan disiplin dan tekun setelah aku besar adalah MEDITASI, karena ketekunan dan kedisiplinan dalam berlatih meditasi inilah aku bisa bersyukur, apa yang aku biasakan sejak kecil punya pengaruh yang kuat terhadap hidupku saat ini, aku merasa tidak perlu mengendalikan diriku pada hal yang bukan merupakan kebutuhan mutlak bagiku karena pengendalian diri itu sendiri adalah watak utamaku, kalau orang lain masih harus berfikir bagaimana caranya untuk mendapat atau membeli ini dan itu, sedangkan aku apa gunanya aku harus membeli ini dan itu.
Aku kembali ke topic ruang nafas yang aku tulis di atas. Kedua contoh kebiasaanku yang aku tulis diatas, merupakan bentuk awal dari ruang nafas keuanganku, saat aku tidak punya uang untuk aku belanjakan sejak aku kecil aku tidak boleh tidak harus membangun ruang nafas yang sekecil-kecilnya, aku bernafas hanya untuk sekedar hidup, hal itupun tetap aku lakukan sampai sekarang walaupun aku punya daya untuk membuat ruang nafas yang lebih besar, karena badanku sudah terbiasa bernafas dengan ruang nafas sebesar itu, kalau sesekali aku ingin mengambil nafas yang lebih besar tidak akan mengurangi kenyamanan diriku.
Akan berbeda sekali jadinya, kalau aku punya kebiasaan mengambil ruang nafas keuangan yang lebih besar, uang yang belum aku miliki saat inipun akan aku pakai sebanyak-banyaknya untuk memenuhi keinginanku saat ini padahal bisa jadi itu bukan merupakan kebutuhan utamaku, jadinya gaji yang aku terima sebagian akan habis untuk memperkarya sipemberi pinjaman demi terpenuhinya keinginan itu. Tidak mungkin bukan, aku akan bisa bisa bersyukur kalau aku dihadapkan pada kondisi seperti itu, paling yang ada aku akan merasa dari hari ke hari kurang terus, dengan alasan gaji kecil, tidak ada kenaikan pangkat, harga naik terus tapi gaji gak naik-naik dan sbgnya.
Sekarang aku mau balik lagi pada angka-angka yang kucantumkan di atas. Angka 150 000 dan angka 210 000 bisa jadi ada tambahan angka lainnya, anggaplah angka yang bisa dihemat 400 000 rupiah, kalau angka itu aku titipkan pada salah satu program investasi, tinggal aku pilih yang konservatif, kira-kira 10 atau 15 tahun lagi saat anakku mau masuk perguruan tinggi, pasti aku tidak akan pernah dipusingkan oleh mahalnya biaya pendidikan, melihat dampak keringanan dan manfaat yang aku terima hanya dengan menghemat sedikit tanpa mengurangi kenikmatan hidup saat ini, tidak ada alasan bagiku untuk berkata salah kalau aku harus ketat sedikit dengan keuangan. Itu baru satu manfaat yang nyata yang bisa kuambil, dengan menyelamatkan uang yang seharusnya keluar mubasir pada program investasi seperti itu, bisa jadi akan bisa menggantikan fungsiku kalau Tuhan tidak mengijinkan aku untuk meneruskan perjuangan dalam hidup ini, atau kalau aku masuk rumah sakit ada yang bantuin aku bayar biaya rumah sakit yang mahal itu.
Aku mau kembali ke kegiatan harianku, aku ketemu sama teman kerjaku di sekolah anakku, yang kebetulan juga nganter anaknya yang sekolah di sana. Sebenarnya aku sengaja pingin ketemu dia, pingin ngobrol dengan dia, karena aku jarang sekali ketemu sama dia kebetulan aku beda shift kerja dengannya. Aku ngobrol masalah kantor, masalah karirku di kantor, dan hubungan aku dengan hal-hal lainnya di kantor. Cukup lama aku ngobrol denganya, mungkin ada sekitar dua jam-an. Diobrolan inilah wacana rasa syukurku aku sampaikan padanya, walaupun aku dalam karir pekerjaan aku termasuk orang yang jauh tertinggal di kantor( kalau gaji mungkin tidak jauh beda), tetapi aku merasa bersyukur bisa berhasil dalam kehidupan(hanya dalam hati saja kuucapkan).
Sepulang dari sekolah anakku, aku melakukan hal yang rutin, makan, mandi, setelah itu ritual utamaku “MEDITASI” kulakukan. Setelah meditasi barulah aku masuk ke aktivitas selanjutnya, hidupin note bookku, cek surat di Halaman Yahoo mail, melihat perkembangan harga Forex, sambil aku menulis Blog ku ini.
Untuk hari ini mungkin, hanya itu yang kutulis karena sisanya sambil menunggu waktu kerja, paling aku baca-baca e book yang aku ambil dari milistku di Groups Trader di Yahoo, sesekali lihat we portal kantorku, karena aku bisa banyak belajar di sana, bisa lihat perkembangan problem yang ada di pesawat, apa yang dilakukan dengan problem seperti itu, kalau bosan baca web motivasi atau cari web berita. Kalau capek yang paling tidur siang setelah itu berangkat ke kantor.
Salam
Tepat jam 6.10 pagi, antara tidur dan terjaga, dan sedikit kaget aku mendengar istriku bertanya , “Tut Dede hari ini masuk jam 7.00 pagi ya?. Dengan mata masih terpejam, aku membenarkan pertanyaan istriku, dan segera dia membangunkan anakku Dede, agar segera mandi biar tidak terlambat masuk hari pertama sekolah setelah liburan panjang dan hari pertamanya di kelas 3 SD. Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan tidurku karena masih terasa ngantuk sekali, toh sekarang masih hari libur keduaku ( dalam satu putaran kerja shift 6 hari kerja aku dapat 2 hari libur). Tetapi keinginanku untuk tidur lebih lama lagi tidak mungkin kulakukan karena aku harus segera mengantar anakku pergi ke sekolah, walaupun jarak rumahku dengan sekolah anakku sekitar 1 km bisa jadi kurang, aku merasa bersalah membiarkan anakku pergi sekolah jalan kaki padahal aku ada di rumah.
Selama ini untuk berangkat sekolah dari kelas 1 sampai kelas 2, anakku selalu pasti kuantar, kadang-kadang kalau aku tidak sempat mengantarnya sekolah , istrikulah yang mengantarnya sekolah. Untuk melatih kemandirian anakku agar urusan berangkat dan pulang sekolah tidak harus selalu diantar dan dijemput, aku membuat aturan wajib jalan kaki sepulang sekolah. Aturan ini kubuat agar dia bisa mengerti ada tanggung jawab terhadap dirinya yang harus dia ambil, bukan sesederhana urusan berangkat dan pulang sekolah, tetapi banyak hal lain yang bisa dia pelajari dengan proses situ: hidup tidak bisa selalu digantungkan pada orang tua saja,. Kesannya pelajaranya ketinggian ya untuk anak seumur itu, tapi nggak kok. Kalau dilihat dari apa yang kutulis di atas, kesannya sih ketinggian, tapi kalau itu merupakan sebuah pelatihan saja, sebenarnya itu hanyalah hal biasa saja, tetapi apa yang kulakukan pada anakku dalam bentuk tulisan, ya jadi kesannya formal dan serius.
Aku mau serius lagi, semua aturan yang kubuat untuk anakku tidak kujelaskan motivasinya apa, aku berharap anakku sendiri yang akan menggali pelajaran apa yang dapat dia ambil dari aturan yang kuberlakukan padanya. Sekarang mungkin belum banyak yang bisa diambil sama dia, tapi seiring berjalannya waktu dan dia akan tumbuh semakin besar, sedikit-dikit, sadar tidak sadar, mau ataupun tidak mau pelajaran itu akan diambil juga, entah karena dia mendapat masalah yang membuat dia harus berfikir dan secara tidak sadar masuk ke kehidupan masa kecilnya, entah karena hasil perenungan yang sengaja dilakukan, ataupun melalui cara-cara lainnya.
Kesannya, aku terlalu berfikir futuristik dan terlalu jauh ke depan, padahal anakku remaja saja belum lewat, kok ngomongnya seakan-akan dia sudah dewasa sekali. Begitulah, aku melihat kehidupan ini terjadi, sesuatu yang terjadi di masa lalu memberi kontribusi pada apa yang terjadi di masa kini, sesuatu yang terjadi di masa kini akan memberi kontribusi di masa depan. Walaupun banyak orang yang berkata hidup damai itu jika kita bisa selalu hidup dalam masa kini, jam ini, menit ini, kalau lebih ekstrim detik ini juga, bukan menit ke depan atau menit yang sudah lewat. Cara pandang hidup seperti ini 100 % benar, menurut aku sih cuma untuk dilaksanakan titik, bukan untuk dibahas.
Aku mau kembali ke topik aturan yang kubuat untuk anakku biar tidak ngelantur kesana kemari, walaupun aku termasuk orang yang cuek terhadap kehidupan sekitarku, tetapi aku merasa mengambil banyak sekali pelajaran dari kehidupan sekekelilingku. Dari pelajaran yang kudapat dari sekelilingku itulah aku merasa, walaupun aku tidak punya kuasa terhadap kehidupan itu, merupakan sesuatu yang mutlak aku harus membangun sebuah lorong sebagai pembatas jalanku di kehidupan yang menyediakan jalan yang teramat luas yang harus kulalui. Apa yang kulakukan sekarang terhadap anakku bertujuan agar dia menyiapkan lorongnya sendiri melalui pelatihan-pelatihan yang diterima di masa kecil. Tidak ada jaminan dia akan berhasil menciptakan lorong kehidupannya sendiri, tetapi hal terbaik yang sudah kulakukan adalah berusaha, hasilnya tetap merupakan rahasia kehidupan. Dan aku tidak mau turut campur dan mencari tahu rahasia kehidupan itu, karena kearah manapun akhirnya anakku menuju, mau ke lorong kehidupannya ataupun keluar lorong kehidupannya tidak ada sesuatu yang salah ataupun seuatu yang benar, semuanya akan terjadi.
Hanya sesederhana itulah, motivasiku memberikan aturan-aturan terhadap anakku saat ini, walaupun ada aturan lain yang kubuat, ada yang bisa dilaksanakan dan ada juga yang tidak bisa dilaksanakan, tapi aku tetap menerima keduanya dengan rasa syukur, karena aku ditakdirkan hanya sebagai perencana terhadap hidupku sendiri dan Tuhan untuk sementara memberi aku kepercayaan untuk memberi pondasi kehidupan pada anakku.
Kembali ke catatan harianku, tidak banyak aktivitas harian yang ingin kutulis hari ini, pergerakan nilai Forex sangat kecil sekali hari ini, aku tidak menemukan pola chart dan fundamental isu yang bagus untuk mencoba melakukan Demo Trading, hanya sesekali saja aku melihat pergerakan harga setelah itu aku tutup lagi platform CIC Future.
Karena hari ini tanggal 14, dan aku masih libur dan stok dapur, laundry dan kamar mandi sudah menipis, sepulang nganter anakku berangkat sekolah, aku ke Koperasi mengambil keperluan tersebut.
Hari ini aku juga pergi ke bengkel langgananku untuk servis motorku, karena sepulang dari koperasi aku melihat banyak sekali oli yang menetes, setelah kuperiksa stik pengukur ketinggian oli mesin motorku, olinya hampir habis, tanpa mau menunggu lebih lama lagi aku pergi ke bengkel, ganti oli, servis dan bongkar tutup kopling untuk memperbaiki kebocoran oli yang ada.
Sambil menunggu perbaikan motorku, aku mengecek inbox di mail Yahooku, dan aku lihat ada buku bagus yang harus aku download, dan aku sempat membacanya sedikit dan cukup bagus.
Sorenya aku pulang kampung, karena aku ada janji memasang antiviru di komputer adik sepupuku, sambil menunggu proses scanning aku ngobrol tanpa topik di rumah, hanya untuk menunggu waktu scanning selesai setelah itu aku balik ke rumahku di Denpasar.
Selesai mandi sore, aku mulai menulis blogku hari ini.
Salam
RENUNGAN PERTAMA
Setelah menikmati semua aktivitasku seharian, ingin sekali rasanya aku merangkum apa yang telah kukerjakan seharian, dari pagi sepulang kerja malam(aku habis shift malam) hingga renungan malam ini kutulis. Karena lagi doyan-doyannya aku membaca informasi tentang forex trading, aku tidak merasa lelah untuk membaca buku-buku yang bisa kujadikan referensi dalam mengambil keputusan baik untuk melakukan Demo Trading maupun melakukan Real Trading jika saatnya nanti aku sudah merasa yakin untuk terjun dalam bisnis ini.
RENUNGAN KEDUA
Selama ini sehabis pulang kerja malam, target utama harianku adalah bagaimana mengganti tidur malamku hari ini, tidur adalah agendaku yang paling utama. Bisa-bisa aku akan menghabiskan waktuku seharian di tempat tidur, untuk tidur beneran atau juga tidur-tiduran karena aku juga kategori orang yang susah tidur. Walaupun di antara waktu tidurku ada jeda-jeda waktu aku makan, mandi, ngasuh anak (pas anakku minta ditemenin sambil aku tidur-tiduran), terselip juga aktivitas rutin yang tidak pernah aku lupakan “meditasi” karena hanya itulah satu-satunya solusi dari semua masalah kehidupan saya sehari-hari.
RENUNGAN KETIGA
Setelah seharian melototin note bookku, tak terasa waktu telah mendekati jam 6 sore, istriku telah pulang dari tempat aktivitasnya ( jualan di pasar), aku teringat aku ada janji sama kedua anakku untuk keluar beli keperluan sekolahnya karena besok adalah hari pertama sekolahnya setelah liburan semesteran dan merupakan hari pertamanya duduk di kelas tiga SD. Setelah dapat semua keperluannya, kedua anakku lanjut pergi ke Time Zone di Matahari Dept Store dan aku lanjut melihat-lihat buku di Gramedia. Aku lihat beberapa judul buku dan sedikit ku baca resumenya, aku pun juga mencoba mencari buku tentang Forex Trading, tapi hanya ku baca di tempat aku tidak berniat untuk membelinya, karena sudah terlalu banyak referrensi yang ada di note bookku yang aku download dari internet. Cukup puas aku membaca content buku Forex Trading aku ingat sama anakku ingin fotonya nampang di internet, aku beralih mencari buku panduan untuk buat Blog, ketemulah aku sebuah buku dengan judul “Trik cepat membuat blog dengan WordPress”, aku baca resumenya, support bahasa Indonesia, senang sekali rasanya, anakku tidak lama lagi akan punya blog bikinannya sendiri, tinggal aku bantu sedikit untuk menyusun dan menemukan menu-menu blog yang tersedia di “WordPress”.
RENUNGAN KEEMPAT
Keluar dari Matahari Dept Store, aku, istri dan kedua anakku menuju tempat parkir motor istriku (tempat parkir motorku dan istriku pisah karena kebetulan parkir penuh), aku tanya istriku, “Tu motornya parkir di mana, kok gak ada di tempat kita parkir tadi?”. Istriku terkejut dan takut bukan main, terkejut karena motornya sudah tidak ada di tempat lagi ( khawatir diselamatkan oleh pencuri motor) dan takut kena marah dari aku karena lupa mencabut kunci motor dari tempatnya.
Yang ada dibayanganku malam itu adalah besok aku harus pergi ke dealer beli motor baru untuk istriku, karena akan masalah dan sangat repot sekali kalau istriku gak punya motor, sebab istriku punya mobilitas yang tinggi sehari-harinya. Sebelum hari besok tiba, selagi masih ada waktu sampai besok pagi sebelum pergi ke dealer untuk beli motor baru aku coba tanya ke security di parkiran Matahari, barangkali ada menemukan orang yang memindahkan motor istriku. Syukurlah akhirnya motorku dipindahkan oleh orang yang tepat, bayanganku besok mau ke dealer batal dan bisnis Forex Traading yang aku rencanakan tidak akan tertunda lebih lama lagi.
RENUNGAN KE LIMA
Sebenarnya aku ingin membuat kesimpulan aktivitasku seharian, pelajaran apa yang dapat kupetik untuk menunjang pengembangan kepribadianku, sesuatu yang selalu menjadi tujuan utamaku dalam menjalani sisa waktu hidup yang diberikan Tuhan padaku. Tapi karena badan ini terasa capek sekali walupun kalau aku paksakan tidak ngantuk sebetulnya, tetapi badan tidak bisa dipaksakan untuk terus bekerja walaupun sepertinya aku tidak mungkin segera pergi tidur karena untuk tidur aku wajib melakukan ritual-ritual harian sebelum tidur dari sekedar rileksasi di tempat tidur, bisa juga memperhatikan nafasku baik itu ritmenya, aliran keluar masuknya nafasku, hembusan udara yang keluar masuk di rongga hidungku, atau bisa juga merasakan jengkal demi jengkal organ tubuhku secara berurutan bisa mulai dari kaki, bisa juga dari kepala, atau bisa juga dari dalam dada terus berlanjut ke bagian tubuhku yang lain sampai akhirnya aku lupa dengan tubuhku dan aku masuk pada kehidupanku yang lain yang entah di mana, yang sampai saat ini aku belum mendapat jawabannya dan aku pun memang tidak terlalu kepingin untuk mencari jawabannya. Karena yang lebih penting bagiku adalah bukan bagaimana aku hidup saat tidur tetapi bagaimana aku hidup dalam kondisi sadar, saat kita “sadar”lah menurutku masalah dalam hidup itu muncul, tetapi anehnya selama ini kebanyakan orang menuntut orang lain untuk selalu “sadar”, menurutku ini adalah sebuah dilema kehidupan. Tetapi fakta juga tidak bisa kita bantah, tak satupun manusia yang tidur bisa mencapai kebahagiaan sekalipun dia mimpi indah, karena orang mimpi dan dia bisa merasakan, mengingat dan menceritakan mimpinya berarti dia tidak tidur.
Malam ini cukup sampai di sini, mudah-mudahan besok ada kesimpulannya, tetapi aku tidak janji mau buat kesimpulan, toh kesimpulan sesuatu yang bersifat sangat sementara, karena kesimpulan itu muncul karena keterbatasan pengetahuan yang kita miliki, begitu pengetahuan kita bertambah sebuah kesimpulan akan tidak valid lagi bagi kita, diganti dengan kesimpulan yang baru.
Salam

Recent Comments